Pengumuman
Jumat, 16 Januari 2026, 13:31 WIB
Halo Civitas STAI Fatahillah Serpong! Apa kabar iman dan imun? Semoga aman, ya. Kalau melihat judul di atas, mungkin ada yang langsung membatin, "Waduh, berat banget bahasanya. Ini artikel atau soal UAS Usul Fiqh?" Tenang, Guys. Kita nggak bakal bahas teori yang bikin kerut kening. Kita mau ngobrol santai soal peristiwa Isra' Mi'raj, tapi versi kehidupan nyata kita sebagai anak PAI. Kita tahu, Isra' Mi'raj itu perjalanan super-kilat Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram, ke Masjidil Aqsa, terus gaspol naik ke Sidratul Muntaha. Nah, kalau dipikir-pikir, perjalanan kita sebagai mahasiswa PAI di STAI Fatahillah ini sebenernya punya kemiripan pola. Bedanya, kalau Nabi naik Buraq, kita naiknya motor (yang kadang telat ganti oli) atau angkot, berjuang menembus macetnya Serpong demi tanda tangan dosen. Mari kita bedah pelan-pelan. 1. Puncak Intelektual: Bukan Sekadar IPK 4.0 Sidratul Muntaha itu puncak tertinggi. Kalau di dunia kampus, puncak intelektual sering disalahartikan cuma sebatas Wisuda atau dapet nilai A di mata kuliah yang dosennya terkenal "hemat nilai". Padahal, semangat Isra' Mi'raj itu semangat upgrade diri. Nabi "diberangkatkan" untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Mahasiswa PAI juga gitu. Kita belajar bukan cuma biar bisa jawab pertanyaan calon mertua, "Kerja apa nanti?" Puncak intelektual itu saat kita sadar bahwa: • Copy-paste makalah dari internet itu bukan prestasi, tapi tragedi. • Bisa baca Kitab Kuning itu keren, tapi bisa memahami realitas sosial masyarakat juga penting. • Punya gelar S.Pd itu mantap, tapi punya skill mendidik yang bikin murid betah di kelas itu jauh lebih mantap. Jadi, kalau Nabi "naik" ke langit, kita juga harus "naik" level. Masak dari semester 1 sampai semester akhir referensinya cuma Wikipedia terus? Come on, kita bisa lebih baik dari itu! 2. Puncak Spiritual: Shalat Adalah "Oleh-Oleh" Terbaik Kita semua tahu, oleh-oleh utama dari Isra' Mi'raj adalah perintah shalat 5 waktu. Ini nih tantangan terberat anak PAI. Kadang lucunya kita ini mahasiswa Pendidikan Agama Islam, teori shalat hafal di luar kepala, dalilnya fasih, tapi pas adzan Dzuhur berkumandang, kita masih asyik scroll TikTok atau debat kusir di kantin. Puncak spiritual itu bukan berarti kita harus jadi malaikat yang nggak pernah salah. Kita manusia biasa yang butuh healing. Dan healing terbaik versi Isra' Mi'raj ya sujud. Bayangkan shalat itu kayak charger. HP aja kalau lowbat kita panik nyari colokan, masa jiwa kita lowbat dibiarin aja? Jadi, yuk jadikan shalat bukan sebagai beban "setoran kewajiban", tapi kebutuhan biar otak dan hati kita nggak hang kena tugas kuliah. 3. Perjalanan Kita Masih Panjang Isra' Mi'raj mengajarkan bahwa untuk mencapai sesuatu yang tinggi (Sidratul Muntaha), butuh perjalanan (Isra'). Nggak ada yang instan. Mie instan aja perlu direbus. Buat mahasiswa yang lagi pusing sama judul skripsi yang ditolak melulu, atau buat dosen yang lelah mengoreksi jawaban ujian yang "ajaib", ingatlah filosofi ini: Setiap kesulitan adalah etape menuju puncak. Mungkin sekarang kita merasa lagi di fase "Masjidil Aqsa" yang jauh dan melelahkan, tapi percayalah, "Sidratul Muntaha" (kesuksesan) itu nyata bagi mereka yang mau bergerak. Intinya, teman-teman STAI Fatahillah Serpong, mari jadikan peringatan Isra' Mi'raj ini bukan cuma sekadar seremonial makan kue kotak. Ayo kita "Mi'raj". Naikkan standar kualitas tugas kita. Naikkan kualitas ibadah kita. Naikkan semangat kita. Biar nanti pas lulus, kita nggak cuma jadi Sarjana Pendidikan Islam, tapi jadi Sarjana yang Punya Integritas (dan punya jodoh, aamiin). Selamat memperingati Isra' Mi'raj! Jangan lupa ngerjain tugas, ya!
Pengumuman
Sabtu, 10 Januari 2026, 10:13 WIB
Pernah nggak sih kita perhatikan fenomena aneh di sekolah? Kalau jam pelajaran Matematika atau Fisika kosong karena gurunya rapat, satu kelas bersorak "Alhamdulillah!" (ini wajar, hitung-hitungan bikin pusing). Tapi, kalau jam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kosong, dan murid-murid malah lebih bersorak gembira, berarti ada yang salah, Bestie! Itu tandanya alarm bahaya sudah bunyi. Menjadi Guru PAI itu tantangannya unik. Kita membawa materi "langit", tapi kakinya harus tetap napak di "bumi". Jangan sampai pas kita masuk kelas, tiba-tiba terjadi wabah masal: 5 anak izin ke UKS karena sakit perut, 3 anak izin ke toilet nggak balik-balik, dan sisanya menunduk khusyuk (bukan berdoa, tapi main HP di kolong meja). Nah, sebagai calon pendidik masa depan jebolan STAI Fatahillah Serpong—kampusnya para calon guru keren—kita harus ubah mindset. Kita nggak mau jadi guru yang "dihormati karena ditakuti". Kita mau jadi guru yang "ditaati karena dicintai". Gimana caranya? Simak tips receh tapi powerful ini: 1. Pensiunkan Wajah "Sanggar Seni" (Sangar Sekali) Dulu, ada mitos kalau Guru Agama itu harus galak biar berwibawa. Masuk kelas, alis berkerut, tatapan tajam setajam silet, bawa penggaris kayu panjang. Wah, itu mah bukan mau ngajar, tapi mau ngajak berantem. Di STAI Fatahillah Serpong, kita diajarkan bahwa senyum itu sedekah paling murah tapi efeknya mahal. Murid itu kalau lihat gurunya senyum, hatinya adem. Kalau hatinya adem, ilmunya masuk. Kalau gurunya cemberut terus, muridnya malah sibuk menebak, "Bapak lagi berantem sama istri ya?" 2. Jangan Cuma Jualan "Neraka" Materi agama itu luas, indah, dan menenangkan. Jangan sedikit-sedikit nakut-nakutin. "Kamu telat sholat? Neraka!" "Kamu nyontek? Kerak Neraka!" Waduh, Pak, Bu... Muridnya jadi insecure sama Tuhan. Jadilah Guru PAI yang membawa kabar gembira. Ceritakan indahnya berbagi, asiknya bersyukur, dan damainya memaafkan. Buat mereka merasa agama itu solusi buat masalah hidup mereka (termasuk masalah diputusin pacar), bukan tambah beban pikiran. 3. Jadilah "Telinga", Bukan Cuma "Mulut" Ini rahasia dapur STAI Fatahillah: Seni Mendengarkan. Guru idaman itu bukan yang ceramah 2 jam non-stop tanpa titik koma. Guru idaman adalah yang mau nanya, "Gimana kabarmu hari ini? Ada yang lagi sedih?" Ketika murid merasa didengar, mereka merasa "dimanusiakan". Di situlah masuk yang namanya bonding. Kalau koneksi hati sudah nyambung, kamu mau ngasih nasihat apa saja, pasti didengar. Bahkan, kamu nggak perlu teriak-teriak buat bikin kelas tenang. Cukup tatap mata mereka dengan penuh kasih sayang (cieee...), mereka bakal diam sendiri karena segan. 4. Update Dong, Jangan Kudet! Kalau murid lagi heboh soal tren TikTok atau istilah skena, guru PAI jangan melongo. Masuklah lewat pintu mereka. "Sholat itu ibarat nge-charge HP, Gaes. Kalau baterai iman kalian lowbat, hidup bakal lemot dan nge-lag." Tuh, kan? Bahasanya nyambung. Materi agama jadi terasa relevan, bukan dongeng masa lalu. Kesimpulan: The Fatahillah Way Menjadi Guru PAI Idaman itu bukan soal siapa yang paling hafal dalil (walaupun itu penting), tapi siapa yang paling bisa menyentuh hati. Di STAI Fatahillah Serpong, kita nggak cuma dicetak jadi "tukang transfer ilmu", tapi jadi "arsitek peradaban" yang membangun karakter lewat cinta. Ingat, murid mungkin akan lupa apa yang kita ajarkan di papan tulis, tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana cara kita memperlakukan mereka. Jadi, yuk jadi guru yang asik! Biar nanti kalau kita nggak masuk kelas, murid-murid bukan bersorak senang, tapi malah nanya, "Yah, Bapak/Ibu nggak masuk? Sepi dong..." Selamat mengajar dengan hati! ❤️
Pengumuman
Kamis, 8 Januari 2026, 13:40 WIB
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Bestie Fillah! Pernah nggak sih kamu dengar mitos kalau masuk jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) itu isinya cuma orang-orang yang siap ceramah 24 jam, hobinya debat dalil, dan outfit of the day-nya (OOTD) cuma sebatas sarung atau gamis? Please, itu pemikiran tahun 2000-an banget! Sini, merapat dulu. Kita luruskan niat dan luruskan persepsi sambil ngopi santai di teras kampus STAI Fatahillah Serpong. Kuliah PAI itu sebenernya "diam menjadi mahasiswa, bergerak menjadi problem solver umat". Kenapa? Karena di sini kita nggak cuma belajar agama, tapi juga belajar jadi manusia yang asik, cerdas, dan yang paling penting: Validasi No. 1 Calon Mantu Idaman. Nggak percaya? Nih, simak kenapa kuliah PAI di STAI Fatahillah Serpong itu worth it banget dan jauh dari kata membosankan. 1. PAI = Pasukan Anti Insecure Di saat jurusan lain pusing mikirin kodingan yang error atau rumus fisika yang bikin rambut rontok, mahasiswa PAI justru lagi asyik belajar ilmu ketenangan jiwa. Kita belajar psikologi pendidikan, manajemen hati, sampai cara ngadepin murid (atau dosen) yang mood swing. Jadi, kalau nanti kamu punya masalah hidup, anak PAI solusinya bukan overthinking, tapi dzikir dan healing (healing-nya ke masjid, ya, bukan ke Bali terus). Mental kita mental baja, Bestie! 2. Skill "Public Speaking" Level Dewa Masuk PAI di STAI Fatahillah Serpong itu otomatis di-training jadi influencer kebaikan. Kamu bakal sering presentasi, khutbah (buat cowok), atau micro-teaching. Awalnya mungkin gemeteran pegang mik, tapi lama-lama? Kamu bakal jago ngomong di depan umum. Lulus dari sini, opsinya banyak: mau jadi guru hits, dosen gaul, motivator, atau Youtuber dakwah saingannya para ustaz selebgram. Skill komunikasi anak PAI itu di atas rata-rata, karena kita terbiasa menyampaikan kebenaran, bukan janji manis palsu kayak mantan kamu. 3. Dosennya Asik, Bukan "Killer" Tapi "Partner" Ini dia rahasia umum di STAI Fatahillah Serpong. Dosen-dosen PAI di sini tuh bukan tipe yang kalau masuk kelas auranya kayak Dementor di Harry Potter (dingin dan menakutkan). Dosen di sini open minded. Diskusi di kelas seringkali berujung pada tawa renyah yang penuh hikmah. Kalau kamu telat atau tugas belum kelar, jangan harap bisa lolos cuma modal senyum, tapi setidaknya nasehatnya masuk ke hati, bukan bikin sakit hati. Kita diajarkan adab sebelum ilmu, jadi suasananya kekeluargaan banget. Rasanya kayak diajar sama Om atau Tante sendiri yang pinter banget. 4. Otomatis Lolos Seleksi Camer (Calon Mertua) Ini poin paling krusial. Coba bayangkan skenario ini: Kamu main ke rumah pacar (eh, taaruf-an maksudnya). Camer tanya: "Nak, kuliah di mana? Jurusan apa?" Kamu jawab dengan mantap: "Saya kuliah di STAI Fatahillah Serpong, Om/Tante. Jurusan Pendidikan Agama Islam." BOOM! Nilai kamu di mata Camer langsung 100/100. Mereka langsung membayangkan masa tua mereka aman, cucu-cucu mereka diajarin ngaji dengan benar, dan rumah tangga yang sakinah. Anak Teknik mungkin bisa benerin genteng bocor, anak Ekonomi bisa hitung duit, tapi anak PAI? Kita yang benerin akhlak dan nuntun ke surga. High quality jomblo kumpul di sini semua! 5. Prospek Kerja? Luas Banget, Bos! "Lulusan PAI cuma jadi guru ngaji doang?" Hello? Mainmu kurang jauh! Lulusan PAI STAI Fatahillah Serpong itu multitalenta. Ada yang jadi: • Edupreneur: Bikin sekolah atau bimbel sendiri. • Konsultan Pendidikan: Ngasih solusi buat kurikulum sekolah. • HRD Syariah: Mengelola SDM dengan pendekatan humanis. • Penulis/Jurnalis: Nulis artikel kayak gini nih. • Politisi: Membawa nilai moral ke kursi dewan. Intinya, di mana ada manusia yang butuh bimbingan, di situ anak PAI dibutuhkan. Kesimpulan: Yuk, Join The Club! Jadi, buat kamu adik-adik SMA/MA/SMK yang masih galau mau kuliah di mana, atau buat mahasiswa yang lagi ngerasa salah jurusan (tenang, kamu nggak salah, kamu cuma butuh refreshing), STAI Fatahillah Serpong adalah tempat yang tepat. Di sini, kita nggak cuma ngejar IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), tapi juga IPK (Iman, Pengetahuan, dan Karakter). Kuliahnya seru, temennya lucu-lucu, ilmunya daging semua. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri kalian. Jangan sampai kuota penuh dan kamu menyesal karena keduluan sama jodoh orang lain yang lebih dulu daftar di sini. STAI Fatahillah Serpong: Kampusnya Para Juara Dunia dan Akhirat! (Disclaimer: Artikel ini ditulis dengan sedikit bumbu humor, tapi validitas kekeran STAI Fatahillah Serpong itu 100% fakta).
Pengumuman
Senin, 5 Januari 2026, 10:41 WIB
Oleh Dr. H. Akhmad Shunhaji, M.Pd Sering ada pertanyaan usil (dan sedikit menyebalkan) yang mampir ke telinga mahasiswa PAI: "Masuk PAI mau jadi apa? Paling cuma jadi guru ngaji atau penceramah." Mari kita luruskan satu hal: Di era di mana kecerdasan buatan (AI) bisa menulis khotbah dalam 3 detik dan Google bisa menjawab hukum fikih dalam 1 detik, peran mahasiswa dan dosen PAI justru menjadi makin krusial, bukan makin terpinggirkan. Kenapa? Karena dunia sedang tidak kekurangan informasi agama. Dunia sedang kekurangan "kewarasan" dan "etika". Dan di sinilah PAI—khususnya di kampus kita, STAI Fatahillah Serpong—mengambil peran utama. PAI adalah "Psychology Plus" Bagi Gen Z yang akrab dengan istilah mental health, anxiety, dan overthinking, PAI sebenarnya adalah jurusan yang menawarkan solusi paling fundamental. Jika psikologi mempelajari jiwa dari sisi manusia, PAI mempelajari jiwa dari sisi Penciptanya. Kuliah PAI di era ini bukan lagi sekadar menghafal tahun berapa perang terjadi, tapi menggali Manajemen Cinta Ilahiah untuk menenangkan batin yang gersang. Mahasiswa PAI hari ini dilatih untuk menjadi healer bagi masyarakat. Mereka belajar bagaimana Al-Qur'an bicara soal manajemen stres, bagaimana hadis mengajarkan social skill (keterampilan sosial), dan bagaimana fikih mengajarkan keteraturan hidup. Jadi, kalau ada yang tanya "Masuk PAI mau jadi apa?", jawab saja: "Mau jadi konsultan peradaban yang membereskan mental manusia modern." Keren, kan? Kritik untuk Kita (Dosen dan Kampus) Namun, agar jurusan ini diminati, kita (para dosen) juga harus "tobat" dari cara mengajar zaman kolonial. Mahasiswa sekarang tidak butuh dosen yang cuma membacakan buku teks di depan kelas (mereka bisa baca sendiri di PDF). Mahasiswa butuh dosen yang bisa menyambungkan ayat dengan realitas TikTok, yang bisa menjelaskan konsep sabar tanpa terdengar seperti menggurui orang yang sedang depresi. Di STAI Fatahillah Serpong, semangat inilah yang terus kita bangun. Kita ingin kelas-kelas PAI menjadi ruang diskusi yang hidup, kritis, dan penuh dialektika cinta, bukan ruang indoktrinasi yang kaku. Peluang Karier yang Tak Terduga Satu rahasia kecil: Perusahaan-perusahaan besar sekarang mulai melirik lulusan berbasis keagamaan yang moderat. Kenapa? Karena mereka punya integritas (akhlak) yang sulit diajarkan dalam 2 hari training. Lulusan PAI bisa masuk ke HRD (Human Resources), menjadi konten kreator edukatif, penulis naskah, konsultan pendidikan, hingga sociopreneur. Kuncinya satu: Kuasai ilmunya, modernkan penyampaiannya. Penutup: Mari Bergabung di Arus Baru Jadi, bagi kalian yang masih ragu memilih PAI, atau bagi mahasiswa yang merasa "salah jurusan", buang pikiran itu. Kalian sedang memegang kunci yang dicari semua orang: ketenangan batin dan pedoman hidup. Di STAI Fatahillah Serpong, kita tidak hanya mencetak sarjana yang pandai berdalil, tapi mencetak manusia yang pandai mencintai—mencintai ilmu, mencintai profesi, dan mencintai kemanusiaan. Yuk, jadikan PAI keren lagi!
Pengumuman
Kamis, 20 November 2025, 09:13 WIB
Pada kesempatan itu, Haji Abdullah menyampaikan perkembangan terbaru terkait kondisi umat Muslim di Timor Leste. Ia menjelaskan bahwa pemerintah setempat kini semakin memberi perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat Muslim, meskipun tingkat populasi Muslim di Timor Leste saat ini masih sekitar 2% dan masih memerlukan peningkatan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, pembinaan keagamaan, hingga penguatan hak-hak sosial. Diskusi mendalam juga berlangsung mengenai kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia Muslim di Timor Leste. Haji Abdullah mengapresiasi perkembangan akademik dan tata kelola pendidikan di STAI Fatahillah Serpong, terutama dalam hal penguatan kurikulum, moderasi beragama, dan pendekatan pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai rahmatan lil-‘ālamīn. Kedua pihak membahas sejumlah peluang kolaborasi, antara lain: 1) Pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi guru, ustaz, dan pengelola lembaga Islam di Timor Leste. 2) Pertukaran akademik dan pengembangan kurikulum, terutama terkait pendidikan Islam berbasis moderasi dan inklusivitas. 3) Kolaborasi riset mengenai pengembangan pendidikan Islam dan pemberdayaan minoritas Muslim. 4) Peluang studi lanjut bagi pemuda Muslim Timor Leste di STAI Fatahillah Serpong. Ketua STAI Fatahillah Serpong, Dr. H. Akhmad Shunhaji, M.Pd, menyambut positif rencana kolaborasi tersebut dan menegaskan komitmen kampus untuk menjadi mitra strategis dalam penguatan pendidikan Islam di kawasan. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan pendidikan Islam yang moderat, terbuka, dan responsif terhadap tantangan zaman—nilai-nilai yang siap dibagikan melalui kerja sama lintas negara. Kunjungan ini menandai langkah awal menuju kerja sama yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kedua belah pihak bersepakat untuk menindaklanjuti pertemuan ini dengan penyusunan rencana kegiatan bersama yang mencakup riset, pengembangan pendidikan, dan program pemberdayaan. Melalui sinergi ini, STAI Fatahillah Serpong berharap dapat turut memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Islam dan kesejahteraan komunitas Muslim di Timor Leste, serta memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi pendidikan dan kerja sama regional.
Pengumuman
Minggu, 26 Oktober 2025, 18:48 WIB
STAI Fatahillah Serpong melalui Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Ika, M.Pd., berpartisipasi aktif dalam Pelatihan Audit Mutu Internal (AMI) yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten bekerja sama dengan Lembaga Best-Q. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Pelatihan tersebut membekali para peserta dengan pemahaman dan keterampilan dalam melakukan audit mutu internal secara profesional, objektif, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, STAI Fatahillah Serpong berkomitmen untuk terus meningkatkan budaya mutu serta memastikan setiap proses akademik dan nonakademik berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Sururin, M.Ag, selaku Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh peserta yang hadir mewakili lembaga masing-masing. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Kopertais Wilayah I dalam memperkuat budaya mutu di lingkungan PTKIS. “Pelatihan ini bukan hanya ajang berbagi ilmu, tetapi juga komitmen bersama untuk memastikan setiap perguruan tinggi memiliki sistem penjaminan mutu yang solid dan berkelanjutan. Dengan begitu, kualitas akademik dan tata kelola lembaga akan semakin meningkat,” ujar Prof. Sururin dalam sambutannya. Pelaksanaan pelatihan ini menjadi bagian dari langkah strategis STAI Fatahillah Serpong dalam membangun tata kelola pendidikan tinggi yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan di bawah pembinaan Kopertais Wilayah I.
Pengumuman
Minggu, 26 Oktober 2025, 18:47 WIB
Pada tanggal 30 Agustus 2025, STAI Fatahillah Serpong telah menyelenggarakan Wisuda Sarjana Strata 1 (S1) sebagai momentum akademik penting bagi para lulusan dalam menandai pencapaian akhir studi mereka. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen STAI Fatahillah Serpong dalam mencetak lulusan yang berkompeten, berakhlak mulia, serta siap berkontribusi di masyarakat. Wisuda dihadiri oleh pimpinan yayasan, senat akademik, dosen, orang tua wisudawan, serta perwakilan KOPERTAIS Wilayah I DKI Jakarta dan Banten. Dalam sambutannya, Ketua STAI Fatahillah Serpong menekankan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan, iman, dan akhlak sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan global. Acara ini juga menjadi momentum reflektif bagi institusi dalam memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi Islam yang berorientasi pada mutu, inovasi, dan pelayanan pendidikan yang unggul. Melalui prosesi wisuda ini, STAI Fatahillah Serpong tidak hanya merayakan keberhasilan akademik para lulusan, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan tinggi Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman, serta berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pengumuman
Minggu, 26 Oktober 2025, 18:47 WIB
STAI Fatahillah Serpong yang diwakili oleh Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) telah mengikuti kegiatan “Pelatihan Penyusunan Dokumen SPMI Berbasis Risiko” pada tanggal 6–8 Oktober 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh KOPERTAIS Wilayah I DKI Jakarta dan Banten dan diikuti oleh para Ketua LPM PTKIS, termasuk dari STAI Fatahillah Serpong, Ika, M.Pd. Pelatihan ini bertujuan memperkuat sistem penjaminan mutu internal dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui penerapan pendekatan berbasis risiko. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Hj. Sururin, M.Ag., selaku Wakil Koordinator PTKIS Wilayah I, menegaskan pentingnya integrasi SPMI berbasis risiko sebagai strategi menghadapi tantangan pendidikan tinggi serta menjamin pencapaian standar mutu sesuai Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025. Materi pelatihan yang disampaikan oleh Tim Best-Q Institute menekankan pentingnya identifikasi, evaluasi, dan mitigasi risiko dalam setiap proses penjaminan mutu. Peserta dibekali pemahaman tentang hubungan antara SPMI dan SPME, konsep manajemen risiko, serta penyusunan dokumen mutu seperti kebijakan, manual mutu, dan SOP berbasis risiko. Melalui kegiatan ini, STAI Fatahillah Serpong menunjukkan komitmennya untuk membangun sistem penjaminan mutu yang adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan. Implementasi SPMI berbasis risiko diharapkan dapat memperkuat budaya mutu serta meningkatkan daya saing institusi di tingkat nasional maupun global.
Pengumuman
Jumat, 8 September 2023, 00:52 WIB
Seusai lulus dari jenjang SMA/SMK dan Sederajat, melanjutkan studi ke perguruan tinggi menjadi impian setiap siswa. Ada perasaan bangga karena siap untuk menyandang status sebagai mahasiswa. Namun, memilih perguruan tinggi bukanlah perkara mudah. Calon mahasiswa harus memantapkan pilihan jurusan. Selain itu, calon mahasiswa pun harus mencari pilihan perguruan tinggi yang dapat menunjang pembelajaran dan mengantar mencapai cita-cita. Ada kabar gembira nihh buat kalian generasi muda yang baru lulus SMA/ SMK dan Sederajat atau sudah kerja lalu ada rencana untuk melanjutkan kuliah! SEGERA daftarkan diri kalian sekarang di Sekolah Tinggi Agama Islam Fatahillah Serpong!
Pengumuman
Minggu, 27 Agustus 2023, 12:23 WIB
PROGRAM STUDI S1 -> Pendidikan Agama Islam Pilihan Waktu Perkuliahan : - KELAS REGULER * Jum'at Pukul : 13.30 - 17.00 * Sabtu Pukul : 08.00 - 17.00 - KELAS ONLINE * Selasa Pukul : 18.30 - 21.00 * Rabu Pukul : 18.30 - 21.00 - KELAS KARYAWAN 1 * Kamis Pukul : 08.00 - 17.00 -KELAS KARYAWAN 2 *Sabtu Pukul : 08.00 - 17.00 Konfirmasi : ( 0821 1120 4202 - Ika )